AlGhazali menggarisbawahi bahwa penghormatan yang setinggi-tingginya mesti ditunjukkan kala berziarah ke makam Rasulullah. Rasa ta'dhim peziarah mesti tampil sebagaimana saat ia menghadap pribadi mulia yang masih hidup, misalnya, dengan tidak sembarangan menyentuh atau mencium makam beliau. Rasulullah, kata Imam al-Ghazali, mengetahui
Siapayang tak kenal dengan Imam Ghazali, beliau adalah Hujjatul Islam yang karya tulisannya lebih dari 300 kitab dengan berbagai macam cabang keilmuan, dari mulai Filsafat; Maqhasid al falasifah (tujuan para filusuf), sebagai karangan yang pertama dan berisi masalah-masalah filsafah. Tahaful al falasifah (kerancuan pemikir para Filsuf) bidang Tasawuf; Miskyat al anwar (lampu yang bersinar
Sehinggaal-Ghazali menjadi imam atau rujukan para intelektual di wilayah Khurassan waktu itu. Kurang lebih selama 6 tahun al-Ghazali terlibat dalam diskusi ini di Muaskar. Madinah dan makam Rasulullah saw, yaitu setelah berziarah ke makam al-Khalil Nabi Ibrahim as. Faktor yang menyebabkannya adalah bersifat psikologis, karena di puncak
Nantiturunnya di halte Ferdowsi tepat di depan makam sastrawan Persia Hakim Ferdowsi. Dari sana, kita tinggal bertanya arah menuju desa Farmad dimana makam Abu Ali berada. Abu Ali Farmadhi mulai bersinggungan dengan dunia tasawuf di kampung halamannya Tus dari al-Ghazali al-Kabir, ayah Imam Ghazali.
MukhtarSyafa'at Banyuwangi, Pengagum Imam al-Ghazali. 29 Juni 2022 Juru Tulis Daftar Isi. Laduni.ID, Jakarta - KH. Mukhtar Syafa'at Abdul Gofur beliau adalah ulama kharismatik dari Banyuwangi, pendiri pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi. Lokasi Makam KH. Syafa'at wafat pada hari Jumat malam, 1 Februari 1991 (17 Rajab 1411 H).
ImamAl-Ghazali menyerang dan mengkritik para filosof karena didasarkan pada penilaiannya terhadap hasil-hasil pemikiran filosof atas tiga kategori: pertama, pendapat-pendapat yang tidak dapat diingkari kenyataannya. Madinah, dan juga makam Rasulullah SAW, yaitu setelah berziarah ke makam al-Khalil Nabi Ibrahim AS." Faktor yang
. Nahdlatul Ulama mengikuti Imam Asyari dan Imam Maturidi dari sisi aqidah, imam empat mazhab dari sisi fiqih, dan Imam Junaid Al-Baghdadi serta Imam Al-Ghazali dari segi tasawuf. Kenapa para kiai mengangkat nama Imam Junaid Al-Baghdadi? Apakah karena ia bergelar sayyidut thaifah di zamannya, pemimpin kaum sufi yang ucapannya diterima oleh semua kalangan masyarakat? Junaid bin Muhammad Az-Zujjaj merupakan putra Muhammad, penjual kaca. Ia berasal dari Nahawan, lahir dan tumbuh di Irak. Junaid seorang ahli fiqih dan berfatwa berdasarkan mazhab fiqih Abu Tsaur, salah seorang sahabat Imam Syafi’i. Junaid berguru kepada As-Sarri As-Saqthi, pamannya sendiri, Al-Harits Al-Muhasibi, dan Muhammad bin Ali Al-Qashshab. Junaid adalah salah seorang imam besar dan salah seorang imam terkemuka dalam bidang tasawuf. Ia juga memiliki sejumlah karamah luar biasa. Ucapannya diterima banyak kalangan. Ia wafat pada Sabtu, 297 H. Makamnya terkenal di Baghdad dan diziarahi oleh masyarakat umum dan orang-orang istimewa. Syekh Ibrahim Al-Laqqani dalam Jauharatut Tauhid menyebut Imam Malik dan Imam Junaid Al-Baghdadi sebagai pembimbing dan panutan umat Islam. ومالك وسائر الأئمة وكذا أبو القاسم هداة الأمة Artinya, “Imam Malik RA dan seluruh imam, begitu juga Abul Qasim adalah pembimbing umat,” Lihat Syekh Ibrahim Al-Laqqani, Jauharatut Tauhid pada Hamisy Tuhfatil Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah tanpa catatan tahun], halaman 89. Syekh M Nawawi Banten juga menyebutkan sejak awal Imam Junaid Al-Baghdadi sebagai panutan umat dari sisi tasawuf. Menurutnya, Imam Junaid Al-Baghdadi layak menjadi pembimbing umat dari sisi tasawuf karena kapasitas ilmu dan amalnya. ويجب على من ذكر أن يقلد في علم التصوف إماما من أئمة التصوف كالجنيد وهو الإمام سعيد بن محمد أبو القاسم الجنيد سيد الصوفية علما وعملا رضي الله عنه والحاصل أن الإمام الشافعي ونحوه هداة الأمة في الفروع والإمام الأشعري ونحوه هداة الأمة في الأصول والجنيد ونحوه هداة الأمة في التصوف فجزاهم الله خيرا ونفعنا بهم آمين Artinya, “Ulama yang disebutkan itu wajib diikuti sebagaimam perihal ilmu tasawuf seperti Imam Junaid, yaitu Sa’id bin Muhammad, Abul Qasim Al-Junaid, pemimpin para sufi dari sisi ilmu dan amal. Walhasil, Imam Syafi’i dan fuqaha lainnya adalah pembimbing umat dalam bidang fiqih, Imam Asy’ari dan mutakallimin lainnya adalah pembimbing umat dalam bidang aqidah, dan Imam Junaid dan sufi lainnya adalah pembimbing umat dalam bidang tasawuf. Semoga Allah membalas kebaikan mereka dan semoga Allah memberikan manfaat kepada kita atas ilmu dan amal mereka. Amiiin,” Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nihayatuz Zein, [Bandung, Al-Maarif tanpa catatan tahun], halaman 7. Pandangan serupa juga dikemukakan oleh Syekh M Ibrahim Al-Baijuri. Menurutnya, jalan terang dan keistiqamahan Imam Junaid Al-Baghdadi di jalan hidayah patut menjadi teladan. Ilmu dan amalnya dalam bidang tasawuf membuat Imam Junaid layak menjadi pedoman. وقوله كذا أبو القاسم كذا خبر مقدم وأبو القاسم مبتدأ مؤخر أي مثل من ذكر في الهداية واستقامة الطريق أبو القاسم الجنيد سيد الطائفة علما وعملا ولعل المصنف رأى شهرته بهذه الكنية ولو قال جنيدهم أيضا هداة الأمة لكان أوضح Artinya, “Perihal perkataan Demikian juga Abul Qasim’, demikian juga’ adalah khabar muqaddam atau predikat yang didahulukan. Abul Qasim’ adalah mubtada muakhkhar atau subjek yang diakhirkan. Maksudnya, seperti ulama yang sudah tersebut perihal hidayah dan keistiqamahan jalan adalah Abul Qasim, Junaid, pemimpin kelompok sufi baik dari sisi ilmu maupun amal. Bisa jadi penulis memandang popularitas Junaid melalui gelarnya. Kalau penulis mengatakan, Junaid juga pembimbing umat’, tentu lebih klir,” Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyah Tuhfatil Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah tanpa catatan tahun], halaman 89. Meskipun sebagai seorang imam sufi di zamannya, Junaid Al-Baghdadi tidak meminggirkan sisi fiqih dalam kesehariannya. Artinya, ia cukup proporsional dalam menempatkan aspek fiqih lahiriyah dan aspek tasawuf batiniyah di saat kedua aspek ini bersitegang dan tidak berada pada titik temu yang harmonis di zamannya. Di zamannya, banyak ulama terjebak secara fanatik di satu kutub yang sangat ekstrem, yang faqih dan yang sufi. Banyak ulama mengambil aspek fiqih dalam syariat Islam, tetapi menyampingkan aspek tasawuf dalam syariat. Sebaliknya pun terjadi, banyak ulama mengambil jalan sufistik, tetapi menyampingkan aspek fiqih dalam syariat. Junaid sendiri bahkan ahli fiqih. Ia juga seorang mufti yang mengeluarkan fatwa berdasarkan mazhab Abu Tsaur, salah seorang sahabat Imam Syafi’i. Baginya, jalan menuju Allah tidak dapat ditempuh kecuali oleh mereka yang mengikuti sunnah Rasulullah SAW sebagai keterangan Al-Baijuri berikut ini. وكان الجنيد رضي الله عنه على مذهب أبي ثور صاحب الإمام الشافعي فإنه كان مجتهدا اجتهادا مطلقا كالإمام أحمد ومن كلام الجنيد الطريق إلى الله مسدود على خلقه إلا على المقتفين آثار الرسول صلى الله عليه وسلم ومن كلامه أيضا لو أقبل صادق على الله ألف ألف سنة ثم أعرض عنه لحظة كان ما فاته أكثر مما ناله ومن كلامه أيضا إن بدت ذرة من عين الكرم والجود ألحقت المسيئ بالمحسن Artinya, “Imam Junaid dari sisi fiqih mengikuti Abu Tsaur, salah seorang sahabat Imam Syafi’i. Abu Tsaur juga seorang mujtahid mutlak seperti Imam Ahmad. Salah satu ucapan Imam Al-Junaid adalah, Jalan menuju Allah tertutup bagi makhluk-Nya kecuali bagi mereka yang mengikuti jejak Rasulullah SAW,’ Kalau ada seorang dengan keimanan sejati yang beribadah ribuan tahun, lalu berpaling dari-Nya sebentar saja, niscaya apa yang luput baginya lebih banyak daripada apa yang didapatkannya,’ dan Bila tumbuh bibit kemurahan hati dan kedermawanan, maka orang jahat dapat dikategorikan dengan orang baik,’” Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyah Tuhfatil Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah tanpa catatan tahun], halaman 89-90. Keterangan Al-Baijuri menjelaskan sikap sufisme Junaid Al-Baghdadi, yaitu tasawuf sunni. Jalan ini yang diambil oleh Junaid Al-Baghdadi karena banyak pengamal sufi di zaman itu terjebak pada kebatinan dan bid’ah yang tidak bersumber dari sunnah Rasulullah SAW. Oleh karena itu, Imam Junaid layak menjadi panutan NU dari sisi tasawuf karena tetap berpijak pada sunnah Rasulullah SAW. وقوله هداة الأمة أي هداة هذه الأمة التي هي خير الأمم بشهادة قوله تعالى كنتم خير أمة أخرجت للناس فهم خيار الخيار لكن بعد من ذكر من الصحابة ومن معهم والحاصل أن الإمام مالكا ونحوه هذاة الأمة في الفروع والإمام الأشعري ونحوه هداة الأمة في الأصول أي العقائد الدينية والجنيد ونحوه هداة الأمة في التصوف فجزاهم الله عنا خيرا ونفعنا بهم Artinya, “Perkataan pembimbing umat’ maksudnya adalah pembimbing umat Islam ini, umat terbaik sebagaimana kesaksian firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Kalian adalah sebaik-baik umat yang hadir di tengah umat manusia.’ Mereka para imam itu adalah orang pilihan di tengah umat terbaik tetapi derajatnya di bawah para sahabat Rasulullah dan tabi’in. walhasil, Imam Malik dan fuqaha lainnya adalah pembimbing umat dalam bidang furu’ atau fiqih. Imam Asy’ari dan mutakalimin sunni lainnya adalah pembimbing umat dalam bidang ushul atau aqidah. Imam Junaid dan sufi lainnya adalah pembimbing umat dalam bidang tasawuf. Semoga Allah membalas kebaikan mereka dan semoga Allah memberikan manfaat kepada kita atas ilmu dan amal mereka,” Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyah Tuhfatil Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah tanpa catatan tahun], halaman 90. Imam Junaid juga menyayangkan sikap naif sebagian kelompok sufi yang mengabaikan realitas dan aspek lahiriyah. Menurutnya, sikap naif sekelompok sufi dengan mengabaikan sisi lahiriyah mencerminkan kondisi batinnya yang runtuh seperti kota mati tanpa bangunan. وكان رضي الله عنه يقول إذا رأيت الصوفي يعبأ بظاهره فاعلم أنه باطنه خراب Artinya, “Imam Junaid RA mengatakan, Bila kau melihat sufi mengabaikan lahiriyahnya, ketahuilah bahwa batin sufi itu runtuh,’” Lihat Syekh Abdul Wahhab As-Syarani, At-Thabaqul Kubra, [Beirut, Darul Fikr tanpa catatan tahun], juz I, halaman 85. Sebaliknya, ia juga menyayangkan sekelompok umat Islam yang hanya mengutamakan sisi lahiriyah melalui formalitas hukum fiqih dengan mengabaikan sisi batiniyah yang merupakan roh dari kehambaan manusia kepada Allah. Walhasil, Imam Junaid Al-Baghdadi adalah ulama abad ke-3 H yang mempertemukan fiqih dan tasawuf di saat keduanya tidak pernah mengalami titik temu. Sikap proporsional Imam Junaid seperti ini sejalan dengan pandangan NU yang tawasuth, tawazun, dan i’tidal, yaitu dalam konteks ini mempertahankan dengan gigih syariat Islam melalui fiqih sekaligus menjiwainya dengan nilai-nilai tasawuf sehingga tidak ada penolakan terhadap salah satunya. Wallahu alam. Alhafiz K
Ulama ini memiliki pengaruh besar dalam sejarah. Harum namanya dan dampak karya-karyanya terasa hingga saat ini. Kaum Muslimin, khususnya yang berhaluan ahlus sunnah wal jama’ah, memandangnya sebagai sang pembela agama Islam Hujjatul Islam. Sosok yang dimaksud adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad ath-Thusiy. Imam Ghazali, demikian sapaan akrabnya, menekuni banyak bidang ilmu, terutama filsafat, akhlak, dan tasawuf. Gelar al-Ghazali merujuk pada kota tempatnya dilahirkan, Gazalah, yang berlokasi dekat Tus, Khurasan. Pada abad ke-11, daerah itu termasuk wilayah Kesultanan Seljuk, sedangkan kini menjadi bagian dari negara Iran. Ghazali merupakan putra seorang pemintal wol. Ia lahir pada 1058 Masehi atau 450 Hijriyah. Lingkungan keluarganya termasuk yang taat beragama. Pendidikannya bermula dari mengaji Alquran dengan sang ayah. Setelah bapaknya meninggal, Ghazali kecil dan saudara lelakinya dititipkan kepada sahabat almarhum, yakni Ahmad bin Muhammad ar-Razikani. Mursyid tarekat ini mengajarkan kepadanya ilmu-ilmu fikih dan kesusastraan sufistik. Di samping itu, Ghazali juga menuntut ilmu di madrasah setempat. Setelah lulus, ia merantau ke Jurjan, sebuah kota pusat aktivitas intelektual di kawasan Persia. Dengan tekun, ia mempelajari bahasa Arab dan Persia serta ilmu-ilmu agama. Selanjutnya, pemuda itu memutuskan kembali ke Tus lantaran kurang puas dengan pelajaran yang diperolehnya selama ini. Beberapa tahun kemudian, Ghazali menuju Nishapur untuk menempuh pendidikan di Madrasah Nizamiyah yang saat itu dipimpin seorang ulama aliran Asy'ariah, Imam al-Haramain al-Juwaini. Jaringan madrasah Nizamiyah tersebar di penjuru wilayah Seljuk. Inisiatornya adalah perdana menteri wazir Nizam al-Mulk. Selama di Nishapur, Ghazali muda terus mendalami ilmu-ilmu ushul fikih, mantik, dan kalam. Selama di Nishapur, Ghazali muda terus mendalami ilmu-ilmu ushul fikih, mantik, dan kalam. Kecerdasannya membuat al-Juwaini amat terkesan. Dia pun diperbolehkan mengajar kapan pun ketika kepala Madrasah Nizamiyah tersebut berhalangan hadir. Pada masa ini pula, Ghazali terus mempertajam kemampuannya dalam menulis. Al-Juwaini wafat saat Ghazali ber usia sekitar 27 tahun. Tak lama kemudian, ia memutuskan untuk memenuhi undangan Nizam al-Mulk di Isfahan. Istana Seljuk di Isfahan merupakan tempat pertemuan elite tidak hanya para pejabat negeri, tetapi juga alim ulama dan cendekiawan terkemuka. Sejak aktif di Isfahan, nama Ghazali kian bersinar. Lantaran mengakui derajat intelektualnya, Nizam al-Mulk pun selalu menerimanya dengan penghormatan. Pada 1090, sang wazir mengangkatnya sebagai guru besar Akademi Nizamiyah di Baghdad. Kedudukan itu membuat Ghazali begitu dihormati di seluruh negeri, padahal usianya belum mencapai 40 tahun. Selama di Kota Seribu Satu Malam, Imam Ghazali menyibukkan diri dengan majelis-majelis ilmu. Ia juga kerap memberikan nasihat kepada kalangan istana, termasuk Nizam al-Mulk. Surat-surat yang berisi petuahnya kepada sang wazir terhimpun dalam karyanya, Nasihat al-Mulk. Salah satu petuahnya adalah, bahwa rasa syukur terbaik yang bisa dipanjatkan seorang penguasa kepada Allah ialah menegakkan kebenaran serta menghapus penindasan di tengah rakyatnya. Rasa syukur terbaik yang bisa dipanjatkan seorang penguasa kepada Allah ialah menegakkan kebenaran serta menghapus penindasan di tengah rakyatnya. Mencari kebenaran Empat tahun lamanya Imam Ghazali memegang jabatan tinggi di Akademi Nizamiyah. Hingga akhirnya, ia pun merenungi perjalanan hidupnya sejauh ini, terutama setelah mempelajari teologi ilmu kalam dari al-Juwaini. Ilmu kalam membahas berbagai aliran yang kadang kala satu sama lain saling berkontradiksi. Ghazali mulai merasa, sudah tiba waktu baginya untuk mencari kebenaran yang sesungguhnya. Dia meyakini, pengetahuan yang diperoleh melalui pancaindera tak dapat dipercaya. Sebab, kelima indra itu dapat saja salah. Pada awalnya, Ghazali meletakkan kepercayaan pada pengetahuan yang diperoleh melalui akal, tetapi kemudian hal ini juga tak memuaskannya. Krisis spiritual dan intelektual yang dialaminya itu terekam dalam karyanya, al-Munqidz Mina adh-Dhalal. Selama enam bulan, Ghazali mengalami kegelisahan batin. Dia bimbang, apakah meneruskan posisinya sebagai pengajar atau berhenti. Sebab, ia sudah teranjur skeptis pada keandalan akal rasional dan metode empiris sebagai jalan menuju kebenaran. Satu-satunya pilihan yang baginya terbuka lebar ialah jalan salik, yakni pengetahuan yang diperoleh melalui kalbu yang tercerahkan oleh iman kepada Allah SWT. Baginya, tasawuf telah menghilangkan segala kesangsian dalam diri. Pada 1905, Imam Ghazali meletakkan jabatan di Akademi Nizamiyah. Dia lalu mengembara dari satu tempat ke tempat lain dengan membawa bekal secukupnya. Kepada keluarganya, dia meninggalkan sejumlah harta yang memadai sebagai nafkah. Rekan-rekannya menganggap, Ghazali akan menunaikan ibadah haji, padahal faktanya lebih dari itu. Dia berupaya menempuh rihlah yang akan memalingkannya dari kekayaan, pangkat, popularitas, dan segala pernak-pernik duniawi. Menulis Ihya Usai musim haji, para petinggi negeri pun terkejut. Sebab, Ghazali tak kunjung pulang ke Baghdad. Raja Seljuk lantas memerintahkan para bawahannya agar segera menelusuri keberadaan penasehatnya itu. Untuk menghilangkan jejak, Ghazali pergi ke Damaskus Suriah lalu Baitul Maqdis. Di kota suci itulah dia mengarang Ihya Ulumuddin sumber lain menyebut, kitab monumental itu ditulis saat pengarangnya tinggal di Masjid Damaskus. Saat mengunjungi makam Nabi Ibrahim AS di Hebron, dia mengucapkan sumpah, tak akan lagi bersedia menjadi pegawai negeri, termasuk mengajar di lembaga-lembaga yang didirikan penguasa. Usai dari Yerusalem, Imam Ghazali berhaji ke Tanah Suci serta mengunjungi makam mulia Rasulullah SAW pada 1096. Setelah itu, dia pergi menuju Tus, daerah tempat kelahirannya. Di sanalah dia kemudian mendirikan halaqah atau majelis ilmu yang diperuntukkan bagi para calon sufi. Pada 1105, penguasa Seljuk, Fakhr al-Mulk mendesaknya agar bersedia mengajar di Madrasah Nizamiyah lagi. Dengan alasan tertentu, dia pun mengalah sehingga kembali ke Nishapur-pusat pemerintahan saat itu-untuk memenuhi permintaan putra Nizam al-Mulk itu. Tugas ini tak lama diembannya. Dirinya pamit dari kota itu untuk kembali membimbing para murid di halaqah yang didirikannya. Ulama yang zuhud dan warak ini menjalani kehidupan sederhana sebagai seorang sufi 10 tahun lamanya. Masyarakat sangat mencintainya sebagai sosok teladan dalam ilmu dan amal. Pada 19 Desember 1111, Imam Ghazali meninggal dunia di Tus dalam usia 53 tahun.
Oleh Abdul Hakim Di dunia Islam, baik timur maupun barat, siapa yang tak kenal dengan dengan Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Ahmad ath Thusi 1111 M. Ia dikenal dengan nama Imam Ghazali. Seorang ulama yang berhasil menggagas kaidah-kaidah tasawuf yang terkumpul dalam karya yang terkenal Ihya Ulumuddin The Revival of Religion Sciences. Karya magnum opus yang hingga saat ini menjadi sumber referensi akademis baik di dunia Timur maupun dunia yang dikenal hujjatul Islam itu masih bisa kita nikmati hingga saat ini, tapi sangat disayangkan, tempat jasadnya dikebumikan, tak layak disebut makam ulama. Makamnya di Thus, Khurasan, Iran, yang konon sejak 7 tahun lalu ditemukan, hanya dipagari dengan kawat dan beratapkan bahan seadanya, serta di sekelilingnya terlihat rumput-rumput itu benar, saya berharap kepada semua pecinta Imam Ghazali, mari bergerak mendermakan hartanya. Jika sudah terkumpul, mari kita meminta ahli arsitek khusus dari Indonesia untuk terbang ke Thus atau Khurasan dengan membawa rombongan para pekerjanya, tentunya dengan perizinan pemerintah di sana, untuk merehab atau pembangunannya. Jika hal itu dapat direalisasikan, insyaallah, makam beliau akan semakin hidup dan bisa jadi tujuan destinasi ziarah wali bagi Muslimin pecinta Imam Ghazali dari seluruh تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki”. Ayat tersebut mengatakan, para wali dan syuhada atau mujahid yang berjuang di jalan Allah tidaklah wafat, bahkan mereka hidup disisi Allah SWT. Kita bisa mencontoh dengan yang sudah dilakukan Muslimin terhadap makam para dzuriyat Rasul, seperti Sayidina Ali 661 M dan Sayidina Husein 680 M di Irak serta Sayidina Ali Arridha 819 M yang tidak jauh dari makam Imam Ghazali. Begitupun dengan makam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i 820 M yang berada di Mesir. Di makam-makam terlihat hidup dan memberi banyak manfaat bagi para pecintanya, dimana di sana dibangun perpustaan yang merangsang terjadinya halaqoh-halaqoh majelis lain sisi kita patut bersedih terhadap kondisi makam para istri Rasulullah SAW, putra, putri dan cucunya serta para sahabat dan aulia yang berada di Jannatul Baqi' Madinah Al Munawarah. Pada tahun 1925 M, makam mereka dahulu diratakan pemerintah Saudi atas dukungan Wahabiyin antiziarah. Mari kita bergerak, jangan kita pandai membangun yayasan dan rumah kita saja, lalu kita melupakan diri untuk merawat makam orang yang kita cintai. Jika bukan kita siapa lagi yang dapat merealisasikan gerakan pembangunan ini? Jika bukan kita, maka siapa lagi yang dapat mencerdaskan umat agar semangat dalam menjaga atsar ulama dan aulia. Jika bukan kita maka siapa lagi yang dapat menjaga sejarah mereka? Sudikah kita memiliki generasi yang tak mengenal sejarah hanya karena hilangnya atsar tersebut?Penulis adalah Sekretaris LTN PCNU Kabupaten Bogor, anggota Gusdurian Depok
Al Ghazali, um dos mais célebres cientistas da história, muçulmano erudito, influenciou tanto as ciências religiosas como seculares. Leia sobre a sua vida. A Redação • Tempo de leitura ~10 minutos Al GhazaliHistóriaCiênciaIslam Imam al Ghazali foi um estudioso que trouxe contribuições valiosíssimas para o Islam. Além dos estudos com mestres, ele teve um período de viagens e introspecção muito valioso para seu aprendizado. Em sua autobiografia, ele esclarece a relação entre as ciências, a filosofia e a religião. Al Ghazali levou o título de “a prova do Islam” devido à importância de seu trabalho de proteger o Islam de alguns problemas de sua época. O Profeta Muhammad prometeu que, a cada século, irá surgir um reformador da fé islâmica. Ao longo da história, grandes muçulmanos intelectuais, governantes, generais e artistas vieram e conseguiram rejuvenescer a fé no mundo muçulmano e ajudar os muçulmanos a lidarem com os problemas de sua época. Para cada uma dessas grandes figuras, um contexto histórico específico foi necessário para que pudessem fazer o que fizeram. Um dos maiores renovadores da fé, em toda a história, foi o erudito do século XI, Abu Hamid al Ghazali. Hoje, ele é conhecido como Hujjat al Islam, a prova do Islam, por causa de seus esforços intelectuais na luta contra algumas das ideias e filosofias mais perigosas que assolaram o mundo muçulmano durante seu tempo. A partir da natureza ubíqua da antiga filosofia grega para a crescente onda do xiismo político, Imam al Ghazali não deixou uma pedra sobre pedra em seu esforço para trazer de volta o caminho correto das ciências islâmicas, em face das ameaças heterodoxas. Vida Pregressa Abu Hamid al Ghazali nasceu em 1058 na cidade de Tus, no Irã moderno. Ele veio de uma família persa, mas era fluente em árabe, sendo a língua na qual ele escreveu, assim como muitos outros estudiosos muçulmanos de sua época. Ele foi educado nos princípios do Islam e da lei islâmica desde tenra idade, tendo contado com o eminente estudioso al Shafi Juwayni entre seus professores. Durante seu exílio auto-imposto, al Ghazali viveu na mesquita al-Aqsa. Após completar sua educação, ele se juntou ao tribunal do Seljuk vizir, Nizam al Mulk, em Isfahan, no ano de 1085. Nizam al Mulk era conhecido por seus esforços para estabelecer centros educativos avançados em todo o mundo muçulmano. Assim, ele nomeou al Ghazali como professor na Escola Nizamiyya, em Bagdá, em 1091. Em Bagdá, al Ghazali tinha uma posição de muito prestígio e regularmente atraía enormes multidões para suas palestras. Em 1095, no entanto, al Ghazali viveu uma crise espiritual, durante a qual ele começou a duvidar de suas intenções no ensino. Ele afirmou em sua autobiografia que sua intenção “não era puramente diretamente a Deus, mas que foi instigado e motivado pela busca de fama e prestígio generalizados.” Reconhecendo o seu dilema espiritual, ele abandonou seu posto na Nizamiyya e viajou para Damasco, Jerusalém e para Hejaz. Durante suas viagens, ele se concentrou na tazkiya purificação de sua alma e na análise das várias abordagens sobre o Islam que eram populares durante sua época. Ele acabou retornando à Bagdá em 1106 e começou a ensinar novamente. Suas viagens e a busca de uma maneira para purificar suas intenções tiveram uma enorme influência sobre o seu papel público e, por vezes, se encontrou em controvérsias durante sua estada em Bagdá. Ele finalmente voltou para sua cidade natal, Tus, onde morreu em 1111. Refutação de Filosofia Em sua autobiografia, Libertação do Erro tradução direta do inglês de Deliverance from Error, al Ghazali descreve as abordagens que as pessoas seguem para encontrar a verdade. Uma das ideologias populares em sua época era a filosofia baseada nos antigos modelos gregos de Aristóteles. A lista de defensores muçulmanos proeminentes da filosofia aristotélica incluía Ibn Sina e al Farabi. Os perigos da filosofia aristotélica e lógica, de acordo com al Ghazali, foram as conclusões nas quais os filósofos chegaram alguns chegaram a acreditar em coisas como a eternidade do mundo e a não existência de Deus, ou a ideia de que Deus não é onisciente. Para al Ghazali e outros muçulmanos fundamentados em crenças islâmicas ortodoxas, essas novas ideias eram consideradas como descrença no Islam. Como al Ghazali percebeu, nenhum estudioso muçulmano tinha, até aquele momento, conseguido refutar eficazmente esses filósofos, pois eram especialistas em lógica e argumentação e conseguiam fazer argumentos muito claros, que faziam sentido para as suas posições – apesar do fato de que essas posições diretamente contradiziam a crença islâmica. Al Ghazali assumiu o desafio de mostrar os problemas dos filósofos em seus próprios termos em “A incoerência dos filósofos” tradução direta do inglês de The Incoherence of the Philosophers, que foi publicado em 1095. Usando a lógica filosófica contra eles, conseguiu mostrar claramente os buracos nos argumentos filosóficos que levavam à descrença. Para fazer isso, ele teve de mergulhar profundamente na mesma filosofia – uma prática que ele não recomenda para as massas. Ao longo de sua escrita, ele enfatiza a importância de estar firmemente enraizado na crença correta antes de investigar as crenças heterodoxas. Outro grande problema que al Ghazali teve de lidar com foi a crescente onda de muçulmanos que aceitaram a crença xiita Ismaili, onde há um infalível Imam oculto que é uma fonte válida da lei islâmica e crença. Para os ismaelitas, que governaram o Egito durante a vida de al Ghazali, a profecia de Muhammad não era a palavra final em questões religiosas. Assim, uma figura santa especial, conhecida como um imame, poderia ser buscada para orientação. No livro Libertação do Erro, al Ghazali refutou as reivindicações dos ismaelitas de terem um imam baseando-se em escrituras, mostrando que não existiam narrações autênticas do profeta Muhammad a respeito de um Imamato após sua morte. Ele também foi além de responder logicamente as alegações de que um Imam é necessário, analisando o papel da lei islâmica e como ela é derivada. Sem ir muito longe em suas provas que são muito melhor compreendidas através da leitura de sua obra original, ele chega à seguinte conclusão sobre os ismaelitas “A sua doutrina se resume a enganar o povo comum e os estúpidos, mostrando a necessidade de um professor autoritário.”1 Depois de analisar as abordagens sobre o Islam por meios filosóficos, xiitas e outros meios, al Ghazali chega à conclusão de que a única forma eficaz de entender o mundo é através da prática autêntica do Islam, como foi ensinada pelo Profeta e pelas gerações iniciais. No seu tempo, isso estava sendo praticado pelos sufis, um grupo que renunciou a dependência deste mundo e manteve o foco exclusivamente na purificação de suas almas, na tentativa de melhor servir a Allah. 2 Al Ghazali e a Ciência Uma acusação comum que tem sido feita ao Imam al Ghazali por estudiosos orientalistas é que sua refutação da filosofia levou a um declínio geral do avanço científico islâmico. Eles baseiam suas alegações no fato de que muitas das pessoas que al Ghazali refutou, como Ibn Sina e al Farabi, foram alguns dos principais estudiosos científicos da época. Naturalmente, porém, a verdade é mais vasta. Enquanto al Ghazali claramente fez frente contra as ideias filosóficas de estudiosos que também escreveram grandes tratados matemáticos e científicos, ele fez uma clara distinção entre filosofia e ciência. Al Ghazali afirma “Quem quer que estude estas ciências matemáticas, se maravilha com a quantidade de precisão de seus detalhes e clareza de suas provas. Por causa disso, ela forma uma opinião elevada dos filósofos e assume que todas as suas ciências têm a mesma lucidez e solidez apodítica como esta ciência da matemática.”3 O perigo de se estudar matemática e outras ciências, argumenta al Ghazali, não é que o assunto em si é contrário ao Islam e deve ser evitado. Em vez disso, o aluno deve ter cuidado para aceitar as ideias científicas de estudiosos, sem aceitar cegamente tudo o que dizem sobre a filosofia e outros assuntos problemáticos. Ele prossegue, afirmando que há um outro perigo para um estudante ignorante das ciências, que é a rejeição de todas as descobertas científicas de estudiosos sobre a base de que eles também eram filósofos com crenças heterodoxas. Ele afirma “Grande, em verdade, é o crime contra a religião cometido por qualquer pessoa que supõe que o Islam deve ser defendido pela negação destas ciências matemáticas. A Lei Revelada Sharia em nenhuma parte compromete-se a negar ou afirmar essas ciências, e essas ciências em nenhum ponto dirigem-se às questões religiosas.”4 Quando se lê as obras do Imam al Ghazali a um nível muito superficial, pode-se facilmente interpretar mal o que ele está dizendo, como se fosse algo anti-científico. A verdade, porém, é que o aviso de al Ghazali aos alunos é apenas de não aceitar plenamente todas as crenças e ideias de um estudioso simplesmente por causa de suas realizações em matemática e ciências. Ao emitir tal advertência, al Ghazali de fato protegeu o empreendimento científico para as gerações futuras, isolando-o de ser misturado com a filosofia teórica, que poderia eventualmente diluir a própria ciência para um campo com base apenas em conjecturas e raciocínio. Legado Este artigo não pretende fornecer uma visão abrangente sobre Imam al Ghazali e todas as suas ideias e contribuições. Para fazê-lo, seriam necessários livros completos que analisam seus escritos. Em vez disso, o objetivo deste texto é mostrar o impacto que al Ghazali teve em sua própria época e história islâmica subsequente. Imam al Ghazali hoje é conhecido como Hujjat al Islam, palavra árabe para “a prova da Religião”, devido à sua contribuição para a proteção do mundo muçulmano a partir dos desafios intelectuais que estava enfrentando. Crenças e práticas islâmicas tradicionais foram confrontadas por um aumento da filosofia niilista e também pelo extremo xiismo que ameaçava apagar e mudar a face da erudição islâmica para sempre. Devido aos seus esforços e aos numerosos estudiosos que ele inspirou, o caminho foi pavimentado para o ressurgimento da crença islâmica como foi ensinado pelo Profeta Muhammad, livre de corrupção externa. Sua vida foi claramente mantida em linha com os ditos do Profeta, que prometeu um renovador da fé a cada século, 500 anos depois do que foi falado. Notas 1 – Deliverance From Error, pg. 18 2 – Deve ser feita uma distinção entre o Sufismo de Imam al Ghazali e algumas das várias marcas do Sufismo hoje. O apoio de Al Ghazali aos Sufis em seu tempo não deve ser tomado como um autenticador de todas as ideologias Sufi de hoje, algumas das quais podem levar à inovação ou desorientação. No tempo de Imam al Ghazali, Sufismo, em si, significava simplesmente purificar a alma e direcioná-la a Allah, como al Ghazali afirma sobre os Sufis “O objetivo do seu conhecimento é para podar os obstáculos presentes na alma e para livrar-se de seus hábitos condenáveis e qualidades viciosas, a fim de atingir, assim, um coração vazio de tudo, exceto Deus, e adornado com a constante lembrança de Deus.” 3 – Deliverance From Error, pg. 22 4 – Deliverance From Error, pg. 9
makam imam al ghazali